expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Showing posts with label Cendikiawan Muslim. Show all posts
Showing posts with label Cendikiawan Muslim. Show all posts

Tuesday, April 24, 2012

Imam Asy-syafi'i

IMAM ASY-SYAFI'I (Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua Madzhab Pendahulunya

Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga

Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.

Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.”
Sementara ibunya berasal dari

Karya Syeikh Abdul Qodir al-Jaelani

Karya Syeikh Abdul Qodir al-Jaelani

  • Bekal Yang Cukup Menuju Allah - Terjemah Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq 'Azza wa Jalla – Syeikh Abdul Qadir Jailani

    Mendirikan ibadah adalah kewajiban bagi setiap muslim/muslimah, sebab ibadah tidak hanya bermakna sebagai pengabdian makhluk pada Sang Khalik, tetapi sekaligus mampu menumbuhkan kecerdasan spiritual dan emosional bagi pelakunya. Itulah sebabnya para ahli ibadah selalu hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan.

    Namun sekarang ini, sungguh sangat langka muslim/muslimah yang mampu mereguk manfaat dari ibadah-ibadahnya sendiri. Shalat, puasa, zakat, haji, wudhu, thaharah, dll., seperti tak berarti apa-apa lagi bagi kehidupannya. Mengapa itu bisa terjadi?


    Untuk mengatasi kegagalan meraih manfaat-manfaat ibadah tersebut,  bacalah kitab monumental karya tokoh sufi paling disegani bergelar Sultonul Auliya, Syekh Abdul Qodir al-Jailani, pendiri Tarekat al-Qodiriyah. Dengan gaya tutur yang sejuk dan kaya hikmah, beliau menyingkapkan pada kita segala rahasia maha dahsyat di balik segenap amal ibadah kita.

    Siapa pun Anda, dengan membaca buku ini , insya Allah akan memperoleh panduan praktis bagaimana cara beribadah yang khusyuk, agar Anda bisa segera merasakan sejuknya telaga cinta dan air mata sang kekasih Allah.
  • Fiqih Tasawuf - Syeikh Abdul Qadir Jaelani

    Inilah sebuah karya yang komprehensif tentang fiqih, etika, dan tasawuf dalam Islam. Sesuai dengan judul aslinya, ‘al-Ghunyah (Kekayaan)’, buku ini kaya dengan pesan-pesan religius Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Memang, tak ada buku yang cukup “kaya” untuk menggambarkan kekayaan pengetahuan Allah SWT. Namun, buku ini bisa dijadikan acuan utama bagi mereka yang ingin mempelajari Islam secara komprehensif.

    Buku ini, diawali dengan prosesi ke-Islam-an, yakni beberapa hal yang harus dilakukan ketika seseorang hendak masuk Islam. Dalam bagian berikutnya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memaparkan aspek akidah, berbagai konsep keimanan yang harus diyakini dan diketahui oleh setiap muslim. Berturut-turut kemudian Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani memaparkan aspek ibadah, muamalah, dan doa-doa.

    Setiap aspek dalam Islam harus senantiasa disertai dengan etika, baik dalam hubungan vertikal (Hamba – Allah) maupun hubungan horizontal (hamba – hamba, sesama manusia). Menurutnya, etika (akhlak) tidak bisa dilepaskan dari semua aspek kehidupan manusia.

    Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani selalu mendasarkan pendapat-pendapatnya pada nashsh-nashsh keagamaan yang valid. Bila tidak mendapatkan dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, Syaikh menyandarkan pendapatnya pada riwayat

Karya Imam Al Ghozali

Karya Imam Al Ghozali

  • Ringkasan Ihya Ulumuddin - Imam Ghozali

    Kitab Ihya Ulumuddin merupakan kitab yang paling populer di antara kitab-kitab klasik tradisional yang ada. Bahkan, hingga sekarang, kitab ini tetap menjadi rujukan utama bagi para penempuh jalan sufi.

    Tuntutan zaman modern yang serba ringkas dan cepat tampaknya telah diantisipasi oleh Imam Al-Ghazali. Buku Ringkasan Ihya Ulumuddin ini merupakan ringkasan dari kitab Ihya Ulumuddin yang berjilid-jilid tersebut. Kendati sudah banyak ringkasan yang telah dibuat, Ringkasan Ihya Ulumuddin memiliki keistimewaan karena prosesnya dilakukan sendiri oleh Imam Al-Ghazali, dengan menjaga intisari dan tujuan buku tersebut.

    Sebagaimana disebutkan Imam Al-Ghazali dalam kata pengantarnya, “Saya telah meringkas buku ini disebabkan sulitnya membawa buku Ihya’ dalam perjalanan.” Walhasil,

Sunday, April 22, 2012

Biografi Imam Mazhab

Biografi Imam Mazhab
Minggu, 22 Aprpil 2012

Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah an-Nu’mani dilahirkan pada 80 H. di Kufah. Di negeri itu pula ia belajar Ilmu Fikih dan merumuskan dasar-dasar mazhabnya. Dan meninggal di Bagdad pada 150 H.
Ia menerima dan mempelajari ilmu tersebut dari Hammad bin Abi Sulaiman, Hammad menerimanya dari dari Ibrahim an-Nakha’I, sedangkan Ibrahim menerimanya pula dari ‘Alqamah bin Qais, murid Abdullah bin Mas’ud.
Kemahiran dan popularitas Abu Hanifah dalam bidang fikih telah mencuat ketika ia berada di Irak. Ketinggian kedudukannya dalam ilmu ini telah diakui oleh Malik, Syafi’i dan para ulama di masanya.
Mazhab pemikiran fikihnya kemudian diterima dan dibukukan oleh sejumlah ulama yang selalu mendampinginya. Mereka itulah yang kemudian dikenal sebagai Ashab Abu Hanifah. Di antara mereka, murid-murid Abu Hanifah yang paling masyhur adalah Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Hasan bin Ziyad dan Zufar.
Pada periode berikutnya, pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya dikodifikasikan menjadi satu, yang kesemuanya itu disebut dengan “Mazhab Abu Hanifah”. Hal ini karena mazhab Abu Hanifah yang paling dominan, sedangkan masalah-masalah yang dikemukakan oleh para pelanjutnya sedikit sekali dan

Imam Malik bin Anas

Mengenal Imam Malik bin Anas (Imam Mazhab Maliki)

Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas Abi Amir al Ashbahi, dengan julukan Abu Abdillah. Ia lahir pada tahun 93 H, Ia menyusun kitab al Muwaththa, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah. Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai gantiAl Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mengetahui bandingannya.

Hadits hadits yang terdapat dalam al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad, ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, hanya dikatakan telah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam al Muwaththa’ Malik.

Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.

Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya